Minggu, 22 Juni 2008

Platonik

Dear,
hatiku berbunga-bunga kemaren ketika aku bisa bertemu dengannya kembali. Kerinduan dan semua perasaan yang menggumpal di dada seolah tertumpahkan. Aku mensyukurinya dear....

Dear,
Aku senang sekali ketika aku tahu ternyata dia membatalkan kepergiannya walaupun untuk sekedar "refreshing" walaupun pada akhirnya dia pergi juga. Aku ga bisa apa-apa dear...

Dear,
Hari ini aku ingin bisa berbuat lebih dari apa yang pernah dia dapatkan dari seseorang...

Rabu, 18 Juni 2008

Tajamnya...

Dear, aku benar-benar terpukul, sedih, kecewa, dendam dan semakin merasa tidak berarti sama sekali... yang akhirnya membuatku hanya bisa menuntuk kepada tuhan, karena aku tidak berhak menuntut apa-apa pdanya.

Dear, dia berhasil menyiksaku, menghancurkan perasaanku... dia benar-benar pintar, licik, kejam dan bengis karena mampu melakukan semua skenarionya dengan baik... benar-benar dapat berlaku seperti yang diinginkannya..

Dear, aku muak dengan semua keadaan ini, aku juga muak kepadamu, walaupun engkau dapat menampung semua kegundahanku, kekesalanku tetapi engkau hanya diam membisu... engkau tidak lebih dari blogku.

Dear, aku benar-benar sakit hati... tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa dan ini semakin menyesakkan dadaku... aku menjadi apatis, aku menggugat tuhan atas semua apa yang tidak bisa aku terima ini.

Dear, aku takut bara dendam membara dihatiku... aku takut kebencian merasuki hatiku menjadikanku bukan hanya benci kepada perlakuannya... tetapi benci kepada orangnya... aku takut kebencian ini menyuburkan ketidak ikhlasan dan kebencian dunia akhirat..

Dear, aku tidak inginkan hal ini terjadi... harus ada yang aku lakukan. Tapi apa? aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku tidak berhak atas dirinya. Aku hanya bisa menerima semua sakit hati karena kata-katanya... karena semakin hari semakin tajam lidahnya, semakin tajam setiap ucapannya dan semakin dalam mengiris hati ini.

Dear. Kenapa kau hanya diam membisu?

Selasa, 17 Juni 2008

Tidak bisa ikhlas...

Dear, aku benar-benar tidak bisa kuasai hati lagi... aku dongkol, kesel, ngegumpal semua di hati... aku tidak bisa menerima semua ini, aku tidak ikhlas atas semua perlakuannya. Dear, dia perlakukan aku semena-mena... aku benar-benar tidak ikhlas..

Dear, aku benar-benar sakit hati, aku benci karena semua ini sengaja dia ciptakan, sengaja dia lakukan hanya semata-mata untuk menata hatinya... dia memerlukan aku hanya disaat dia ingin tata hatinya... dan setelah itu dia hanya anggap aku angin lalu...

Dear, aku benar-benar tidak bisa ikhlas... karena aku terus merasa teraniaya dengan sikapnya padaku...

Dear, dia memang bukan orang pertama, tapi dia memang orang yang benar-benar aku cintai dengan segenap perasaanku... aku ingin dialah pelabuhan terakhirku... aku ingin dialah pasangan dunia akhiratku... aku inginkan dia...

Dear, dapatkah kau rasakan apa yang aku rasakan saat ini?
Dear, dapatkah kau rasakan gumpalan yang menyesakkan dada ini?
Dear, aku begitu mencintainya sehingga begitu sakit aku rasakan perlakuannya.
Dear, aku benar-benar tidak rela... aku tidak bisa ikhlas

Senin, 16 Juni 2008

Pasrah

Dear, kecemburuanku sering membakar hatiku yang mengakibatkan timbulnya bayangan-bayangan yang aku sendiri kadang menjadi ragu karena aku tidak tahu apakah semua keluar dari hatinya atau sengaja untuk bersenda gurau dengan memperolokkan hatiku. Aku hanya bisa pasrah menerima apapun yang dia lakukan, entah memang dia lakukan atau hanya untuk menutupi hal lain yang mungkin akan membuatku semakin cemburu.

Dear, aku tahu cemburu yang berlebihan akan merusak suasana hatiku bahkan membuatnya menjadi jengah... tapi aku sadar, kecemburuanku beralasan... Ingin aku terima dengan bulat-bulat semua ucapannya, tetapi ketika itu aku lakukan... ternyata aku salah... Ingin aku tidak menerima semua ucapannya, tetapi terkadang menjadi salah.

Dear, entahlah... aku hanya bisa pasrah.

Kamis, 12 Juni 2008

Memang susah

Dear, Aku akui, susah untuk menolak perasaan tertarik dan mencintai ketika perasaan tersebut sudah bersemayam dalam hati, dan dear, perasaan memang bukan hal yang mudah untuk diabaikan apalagi aku sudah tidak bisa mengendalikannya.

Dear, Kecintaan dan kenangan padanya begitu mendalam sehingga aku tidak bisa kendalikan benih cinta telah bertunas, berakar, berkembang... bahkan berharap untuk menuainya. Iya, benih cinta itupun semakin mendapat tempat karena hampir semua aspek kehidupanku diwarnai dengan keberadaanya dan menempatkan aku pada perasaan yang mendalam

Dear, aku sadari bahwa menjalani lembaran hidup baru dalam pernikahan yang pernah mengalami badai dalam biduk pernikahan adalah sulit. Perasaan bersalah dalam diri dan kesadaran atas apa yang pernah terjadi, bukan untuk disesali, karena semua aku lakukan dengan hati. Dan aku sadari bahwa semua ini tentu akan menjadi ganjalan dalam menjalani bahtera rumah tangga selanjutnya.

Dear, Keyakinanku begitu kuat tetapi kepastian selau tidak bisa aku tentukan. Pembuktian bukanlah suatu keputusan untuk memperbaiki dan kembali kepada keadaan semula

Dear, Perasaan adalah sesuatu yang memang tidak dapat dicegah namun hati ini tidak dapat mengendalikannya dan aku tidak tahu bagaimana menyikapinya. Hati ini tidak ingin membatasi setiap kesempatan dan harapan untuk bisa bersamanya. Aku pun menyadari, bahwa dia telah memperkecil ruang bagiku di hatinya.

Dear, Semua telah terjadi dan aku tidak menyesalinya. Perasaanku semakin sulit dikendalikan, walaupun aku tahu sikapnya telah berubah untukku. Tapi sungguh, aku tidak bisa merubah sikapku padanya, bahkan dalam do'a-do'aku sekalipun..

Dear, Do'a yang kupanjatkan malah semakin menunjukkan do'a orang yang ingin sungguh-sungguh terus dapat bersamanya sehingga aku tidak bisa keluar dari perangkap perasaan yang aku rasakan saat ini. Aku tidak memiliki pengendalian diri dan aku tahu kecintaan di hati terhadapnya akan semakin besar.

Rabu, 11 Juni 2008

Redakan...

Dear,
Aku begitu mencintainya, bahkan sangat mencintainya, dan dengan segala sesuatu aku lakukan dengan hatiku, aku berpikir dengan hatiku, aku bertindak dengan hatiku dan itu memang yang aku mau. Aku begitu mencintainya dear...

Dear,
Aku tahu, hatinya sudah mulai bergeser dan dia telah menata hatinya kembali... bukan untukku. Tapi dear, saat dia mulai menata hatinya, saat itu pula aku semakin terlena, dan ketika dia telah siap dengan tatanan yang baru... betapa kejamnya dear... dia siap tinggalkan aku..

Dear,
Aku tahu, hatiku tidak pernah bisa kembali seperti sebelum ini, dan aku tahu, aku telah berusaha untuk menyadari semuanya. Tapi dear, aku telah menyerahkan segenap perasaanku, kecintaanku kepadanya, dan aku tahu aku tak akan pernah bisa kembalikan itu semua.

Dear,
Akupun sadar bahwa aku hanyalah punguk yang merindukan bulan, dan kesadaran itu membuat aku semakin tersiksa karena pada saat yang sama aku tidak pernah bisa hilangkan semua harapanku untuk dapat hidup bersamanya.

Dear,
Aku mempunya keyakinan yang begitu kuat tetapi aku tidak mempunyai kepastian, karena aku sadar, keyakinan milikku tetapi kepastian hanya milik-NYA.

Dear,
Aku telah berusaha menipu hatiku, membohongi hatiku, tetapi justru semakin gemuruh hati ini, semakin mengakar kerinduan, harapan, keinginan untuk dapat bersamanya.
Bahkan dear, aku dapat menagis dalam sholatku untuknya, menangis dalam sholatku untuk harapan yang tidak pernah berujung. Dear, dapatkah kau pahami hati ini?