Dear,
Aku begitu mencintainya, bahkan sangat mencintainya, dan dengan segala sesuatu aku lakukan dengan hatiku, aku berpikir dengan hatiku, aku bertindak dengan hatiku dan itu memang yang aku mau. Aku begitu mencintainya dear...
Dear,
Aku tahu, hatinya sudah mulai bergeser dan dia telah menata hatinya kembali... bukan untukku. Tapi dear, saat dia mulai menata hatinya, saat itu pula aku semakin terlena, dan ketika dia telah siap dengan tatanan yang baru... betapa kejamnya dear... dia siap tinggalkan aku..
Dear,
Aku tahu, hatiku tidak pernah bisa kembali seperti sebelum ini, dan aku tahu, aku telah berusaha untuk menyadari semuanya. Tapi dear, aku telah menyerahkan segenap perasaanku, kecintaanku kepadanya, dan aku tahu aku tak akan pernah bisa kembalikan itu semua.
Dear,
Akupun sadar bahwa aku hanyalah punguk yang merindukan bulan, dan kesadaran itu membuat aku semakin tersiksa karena pada saat yang sama aku tidak pernah bisa hilangkan semua harapanku untuk dapat hidup bersamanya.
Dear,
Aku mempunya keyakinan yang begitu kuat tetapi aku tidak mempunyai kepastian, karena aku sadar, keyakinan milikku tetapi kepastian hanya milik-NYA.
Dear,
Aku telah berusaha menipu hatiku, membohongi hatiku, tetapi justru semakin gemuruh hati ini, semakin mengakar kerinduan, harapan, keinginan untuk dapat bersamanya.
Bahkan dear, aku dapat menagis dalam sholatku untuknya, menangis dalam sholatku untuk harapan yang tidak pernah berujung. Dear, dapatkah kau pahami hati ini?


