Rabu, 18 Juni 2008

Tajamnya...

Dear, aku benar-benar terpukul, sedih, kecewa, dendam dan semakin merasa tidak berarti sama sekali... yang akhirnya membuatku hanya bisa menuntuk kepada tuhan, karena aku tidak berhak menuntut apa-apa pdanya.

Dear, dia berhasil menyiksaku, menghancurkan perasaanku... dia benar-benar pintar, licik, kejam dan bengis karena mampu melakukan semua skenarionya dengan baik... benar-benar dapat berlaku seperti yang diinginkannya..

Dear, aku muak dengan semua keadaan ini, aku juga muak kepadamu, walaupun engkau dapat menampung semua kegundahanku, kekesalanku tetapi engkau hanya diam membisu... engkau tidak lebih dari blogku.

Dear, aku benar-benar sakit hati... tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa dan ini semakin menyesakkan dadaku... aku menjadi apatis, aku menggugat tuhan atas semua apa yang tidak bisa aku terima ini.

Dear, aku takut bara dendam membara dihatiku... aku takut kebencian merasuki hatiku menjadikanku bukan hanya benci kepada perlakuannya... tetapi benci kepada orangnya... aku takut kebencian ini menyuburkan ketidak ikhlasan dan kebencian dunia akhirat..

Dear, aku tidak inginkan hal ini terjadi... harus ada yang aku lakukan. Tapi apa? aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku tidak berhak atas dirinya. Aku hanya bisa menerima semua sakit hati karena kata-katanya... karena semakin hari semakin tajam lidahnya, semakin tajam setiap ucapannya dan semakin dalam mengiris hati ini.

Dear. Kenapa kau hanya diam membisu?